Warga Kota Panen Padi di Kota Araya

Bagi warga kota, sepiring nasi tidak terlalu istimewa. Untuk menghadirkannya, warga kota tinggal membeli beras di toko terdekat, menanaknya dengan rice cooker atau magicom, dan nasi hangat pun mengepul di atas meja makan.
Namun di balik semangkuk nasi, ada banyak cerita yang melibatkan peluh, kerja keras, dan kebersamaan. Nilai inilah yang terungkap dalam even Panen Padi (Paddy Harvest) yang digelar Kota Araya Minggu siang kemarin.
Seratus pengunjung yang hadir dalam Panen Padi, semula tidak menyangka mengenai pengalaman yang akan didapatnya. Tidak ada yang menduga memanen padi merupakan kerja berat yang memakan waktu lama. Tantangan awal yang terlihat, mungkin hanya sekedar sengatan matahari yang menyala dengan teriknya pada pukul 11.00 WIB kemarin.
Para peserta Panen Padi ini, didandani layaknya petani tradisional. Menggunakan jarik dan topi caping, mereka bersiap dengan ani-ani dan tompo. Sebagian peserta wanita melilitkan tomponya dengan jarik tambahan layaknya menggendong bayi.
Sambil bergurau, rombongan peserta yang terdiri dari dewasa dan anak-anak lantas menuruni lereng di bawah jembatan Kota Araya, menuju hamparan sawah yang menguning seluas kurang lebih satu hektar.
Tradisi petani, musim panen didahului dengan Upacara Wiwitan. Ini pula yang kali pertama disuguhkan pada prosesi Panen Padi. Peserta berkumpul mengelilingi tumpeng nasi putih dan polo pendem yang penuh dengan hasil panen seperti ubi, jagung, pisang, dan kacang tanah yang semuanya direbus.
Tak lama berselang, peserta mulai memanen padi dengan dibekali ani-ani. Peserta sebagian besar kesulitan menggunakan alat yang lazimnya digunakan untuk memotong padi Jawa ini.
‘’Digenggam ani-aninya. Jari telunjuk dan jari tengah dirapatkan. Ambil batang padinya lalu potong padi dengan gerakan seperti ini,’’ ujar Sutrisno, Karyawan Kota Araya sekaligus petani, yang didaulat menjadi pemandu selama acara berlangsung.
Separuh peserta menyerah dalam lima menit saja. Sebagian lainnya puas hanya dengan memotong sejumput padi. Hanya tinggal anak-anak kecil yang tampak bersemangat. ‘’Mudah kok. Ini saya sudah mengumpulkan separuh,’’ ujar Gracella Silvana Sharon, 7 tahun, sambil menunjukkan wadah anyaman yang ia pegang di tangan kirinya.
Grace yang bersekolah di SD Kolese Santo Yusuf kelas 1 ini juga ikut prosesi merontokkan padi. Sementara sebagian peserta mengiles-iles padi dengan kakinya, gadis cantik ini memilih menggebyok padi pada batang kayu yang disiapkan panitia.
Namun hanya sebentar saja, ia mundur. Rupanya ratusan bulir padi yang beterbangan sering kali menampar kulitnya yang saat itu mengenakan gaun putih tanpa lengan. ‘’Sakit sekali kena padinya,’’ ungkap Grace.
Sementara peserta sibuk merontokkan padi, Sutrisno menjelaskan bahwa normalnya bulir padi harus dikeringkan selama satu dua hari, baru setelah itu ditutu atau dikupas. Pengupasannya, dengan dimasukkan dalam lesung dan ditumbuk bergantian. Selama proses gejlog lesung ini, tidak jarang petani menggunakan irama tertentu agar tidak bosan yang biasa disebut kotekan.
Atraksi gejlok lengsung, yang merupakan favorit para peserta Panen Padi, membutuhkan kekompakan dari masing-masing orang. Selain pengaturan irama, tangan juga harus kuat menahan beban lesung yang cukup berat.
Hal ini diakui oleh Vanda Yunitasari, peserta yang mencoba langsung gejlok lesung. ‘’Berat lesungnya berbeda-beda. Yang berat digunakan sebagai bass, sementara yang lebih ringan untuk ketukan yang lebih cepat karena suaranya nyaring. Saya sendiri hanya mencoba tidak sampai satu menit. Beratnya bukan main,’’ tutur wanita berkacamata ini.
Sawah yang dimiliki Kota Araya tersebut dalam satu tahun bisa panen sebanyak tiga kali. Dan dalam satu kali panen, membutuhkan waktu dua hingga tiga hari. Belum termasuk proses pengeringan yang memakan waktu dua hari.
General Manager PT Araya Megah Abadi Golf, Prima Hartono menjelaskan, even yang merupakan kali pertama ini merupakan suasana baru khususnya bagi Taman Indie.
Dengan suguhan tradisional, ia berharap bisa mengedukasi masyarakat mengenai tradisi masyarakat Indonesia sebelum modernisasi.
’Khususnya bagi generasi muda, kami harapkan kegiatan ini memberikan pengetahuan pada mereka mengenai padi mulai penanaman, hingga siap dimakan,†terangnya.
Dan memang, kegiatan Panen Padi bagi anak kecil seperti Grace, semua sangat menyenangkan. Semua prosesi yang dijalani, diakuinya sangat menarik.
Namun ia dengan mantap menggeleng saat ditanya apakah mau menjadi petani. Dan di akhir acara, pengunjung pun sampai pada satu kesimpulan yang sama dengan Grace. Ternyata jadi petani itu sangat susah.(Fionna Mediony-malangpost)
Keywords: pertanian, wisata malang- Berita Lainnya :
- Open Casting Presenter, Uji Talenta Membawa Berita
- Kompas Gramedia Fair, Turut Cerdaskan Bangsa
- Bintang Bimasakti Pulang Kampung Sebelum Ikuti Seleknas
- Tingkat Kelulusan SMA tak Masuk 10 Besar
- Tak Hanya Manusia, Hewan juga Periksa Kesehatan
- Kredit Perbankan Rp 50 Miliar, salurkan ke 531 UMKM
- TPS Unik Berbahan Daur Ulang
















wah beritanya mantep kang, kasih tautan ke http://www.TamanIndie.com biar lebih sip ;)
Komentar oleh Jauhari — 11 Juni 2008 @ 08:50