Biogas: Energi Alternatif Pengganti BBM
Warga Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kecamatan/Kota Batu, tidak lagi merasakan kelangkaan dan mahalnya harga minyak. Itu karena warga sudah menggunakan biogas sebagai energi alternatif, untuk bahan bakar. Dampaknya, warga pun bisa berhemat, dan tak perlu antre.
Teknologi biogas ini, diawali tahun 2004 lalu. Mulanya, warga mencari cara untuk membuang kotoran ternak sapi miliknya. Maklum, sebelum diolah menjadi biogas, kotoran ternak sapi itu dibuang sekenanya. Paling sering di sungai.
Aktifitas warga yang membuang kotoran sapi di sungai setiap hari, menuai banyak protes warga yang ada di bawah aliran sungai tersebut. Warga yang protes menuduh pemilik ternak telah mencemari lingkungan dan kejernihan air.
‘’Kami berpikir saat itu untuk mencari alternatif pembuangan kotoran sapi. Kebetulan setelah melakukan konsultasi ke sana dan kemari, akhirnya mendapat jalan keluar,’’ terang Sudarji, salah satu warga yang mempelopori adanya biogas ini.
Saifudin Zuhri, adalah salah satu warga yang berjasa membuat bahan bakar dengan biogas ini. Pasalnya Gus Udin, begitu dia kerap dipanggil, tidak malu-malu untuk mengajukan bantuan, pengolaan biogas tersebut ke PT Petrokimia Gresik. Saat itu PT Petrokimia Gresik, membantu membuatkan tabung pengolaan.
Dua tabung pun akhirnya dibuat oleh PT Petrokimia Gresik, yang masing-masing berfungsi sebagai tabung pengisian dan tabung pembuangan.
‘’Tabung yang diameternya kecil itu untuk pengolaan, yaitu diisi kotoran sapi. Sedangkan tabung yang berdiameter 3,4 meter ini untuk pembuangan. Di dalam tabung ini juga ada selang, yang berhubungan, sehingga proses pengolaan ini berjalan sempurna,’’ kata Sudarji.
Sedikitnya 200 kg kotoran sapi yang digunakan warga untuk diisikan ke tabung. Dan dari 200 kg itu bisa digunakan memasak hingga tujuh keluarga, masing-masing mendapat jatah memasak dua jam.
Warga juga tidak panik, saat gas tiba-tiba mati, sekalipun saat itu memasak. Mereka hanya perlu menunggu, paling lama satu jam untuk gas bisa terisi penuh kembali.
‘’Waktu pertama memang dua jam memasak, bisa dilakukan bersama-sama. Tapi jika gasnya habis, warga harus sabar menunggu, karena secara alami proses pengolaan berjalan,’’ terang Sri Utami, salah satu warga yang memasak dengan biogas.
Untuk melihat sisa gas apakah habis, ataupun masih banyak, warga memakai alat ukur dan selang berisi air. Jika gas penuh, maka air akan meluap hingga angka 100 centi. Namun jika gasnya sedikit airnya tidak akan naik.
Sementara itu, dari dulunya hanya tujuh KK, sekarang yang memasak dengan energi biogas sudah mencapai 40 KK. ‘’Kami berharap semua warga memakai energi ini, karena jauh lebih berhemat,’’ ungkap Sri Utami. (ira ravika/bersambung)
(ira ravika, MalangPost)
Keywords: bbm, biogas, energi alternatif- Berita Lainnya :
- Ujian CPNS Malang Raya Diikuti 27.627 Peserta
- Polka, Komunitas Penggemar Sepeda Onthel di Malang
- Hari Minggu Diprediksi Puncak Arus Balik
- UPDN Proses Pengajuan Izin 20 SPBU di Malang Raya
- PO Pertiwi dibeli PO Restu
- Gempa Kembali Mengguncang Laut Selatan, 5 Hari Pasca Gempa Tasikmalaya
- Pengamanan Lebaran Jadi Atensi












saya sangat salut apa yang upayakan oleh masyarakat daerah batu khususnya desa toyomerto pesanggrahan itu! tolong kalao bisa ya diakomodasikan kedaerah lainnya dan kalo perlu pemerintah menyiapkan sarana dan prasaranya supaya bisa dinikmati oleh semua kalangan tdk hanya disekitar desa toyomerto saja. Ini lho yang namanya pemberdayaan masyarakat! jadi pemerintah harus merespon dg cepat dan jangan sampai dikebiri, supaya masyarakat kita semakin berkembang tidak ketergantungan negara lain terus. Dan juga LSM, akademis atau Ormas-2 bahkan pengusaha bersama-sama pemerintah mengupayakan pemecahan alternatif! tidak hanya politik dan kedudukan saja yg dipikirkan tapi nasib pe wong cilik juga harus diperjuangkan .
Hidup orang batu !
apa biogas menggunakan kulit pisang bisa jadi? udah ada yang pernah nyoba?
pada dasarnya sih, semua sampah biomassa bisa diolah menghasilkan biogas.
Ada yg mencobanya dari limbah tahu (yg baunysa sangat menusuk itu, biasa disebut ‘kecutan’ oleh orang jateng). Malah kalau dari kulit pisang bukan lagi sekedar biogas, tapi juga ethanol!
wah dahsyat nich, …. ini namanya warga negara yang baik dan kreatif, semoga dan semoga krisis energi ini memompa warga untuk kreatif mencari sumber energi terbaru yang hemat dan murah
kalau bisa lampirkan metode atau cara pembuatan biogas secara mendetail saya yakin jika lengkap dengan caranya sosoalisasi kepada masyarakat awampun bisa dapat cepat memahaminya bila perlu dengan gambar medianya agar masyaakat kita bisa membuat sendiri
bagussss!!! dan terimakasih atas ilmunya
Leave your response!
Advertorial
Kurs Dollar-Rupiah BI
Harga Emas US$ per-gram
Ads
Blogroll
Berita Teranyar
Tanggapan
Tag Terpopuler
APBD biaya pendidikan bisnis CPNS demo DPRD guru hukum infrastruktur Jatim kejaksaan kesehatan korupsi KPUD kriminal Lebaran lingkungan lomba pangan parpol pasar PDAM pemilu perda Pertanahan pertanian PKL PNS polisi ponsel proyek PSB rokok RSSA Satpol PP SD sekolah Singosari SMA SMK SMP transportasi UB UM UMMMost Commented