Home » Kota Malang

90 persen Batik Malaysia merupakan Batik Indonesia

17 April 2008 No Comment

Batik memiliki makna yang sangat kaya, karena dikerjakan oleh perempuan-perempuan Indonesia dengan penuh perasaan. Goresan canting di atas kain pun tidak semata-mata mengikuti pola yang ada. Dengan latar belakang perajin yang berbeda, hasil batik bisa berbeda pula. Ini sebabnya mengapa Indonesia sangat kaya dengan motif batik.

Hal ini disampaikan oleh Nina Akbar Tandjung dalam Talkshow The Mysteri of Batik bersama Ketua Kelompok Pecinta Budaya Bangsa Ny Rien Bambang Guritno dan perwakilan perajin batik asal Lawean, Solo, Ny Sulaeman. Nina yang tampil cantik dengan busana batik Lasem kontemporer berlengan balon tersebut menjelaskan, batik sebagai identitas budaya bangsa kini telah banyak berkembang mulai corak tradisional hingga kontemporer.

“Namun setiap motif mengandung makna tertentu yang biasanya berupa doa dan harapan,” terang Nina di hadapan puluhan peserta yang didominasi wanita ini.

Misalnya saja, batik pakem untuk pernikahan yang sebagian besar menggunakan truntum kembang tanjung.
Batik Sido Asih, ungkapnya, merupakan pengharapan orang tua agar si anak penuh welas asih. Demikian pula Batik Sido Mukti yang melambangkan pengharapan agar pemakainya menjadi orang yang terhormat, serta Batik Sido Drajat untuk harapan memperoleh pangkat atau kedudukan yang lebih baik.

“Ini sebabnya batik Kraton dengan pakem-pakem hanya digunakan pada kalangan tertentu. Yakni mereka yang mengerti makna dibaliknya,’’ terangnya. Batik yang bermakna filosofis, lanjutnya, diantaranya memang merupakan batik untuk acara pernikahan. Setiap prosesi membutuhkan batik dengan motif yang berbeda.

“Mungkin ibu-ibu ini bertanya, kenapa batik siraman menggunakan kain dengan motif cakar? Cakar disini dicontohkan dengan cakar ayam. Ayam merupakan makhluk yang mampu mencari makan sendiri. Makna batik ini, agar calon mempelai mampu menggunakan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan hidup mandiri,” tutur wanita yang juga mengeluarkan 11 seri buku mungil berjudul Pemikiran Kartini ini.

Dengan berkembangnya teknologi, batik kini lebih cepat prosesnya sehingga perkembangannya juga relatif pesat. Jika dulu satu kain batik selesai dalam waktu 60 hari, kini dengan teknologi printing, batik bisa diselesaikan 2 hingga 4 hari. Namun demikian, hal ini menimbulkan kecemasan dari perajin batik karena karyanya kalah dengan modernisasi.

“Kita tidak boleh menyerah. Bagi mereka yang mengerti, mereka akan paham mengapa harga batik bisa begitu tinggi. Dan memang, segmen pengguna batik ini merupakan kalangan khusus yang mengerti indahnya seni,” ungkap Nina menjawab pertanyaan peserta dari perajin batik yang gusar.

Sementara itu, menghadapi kecemasan hilangnya kebudayaan akibat klaim negara tetangga, ditanggapi ringan oleh Ny Sulaeman yang merupakan perajin batik dari Lawean, Solo. Dengan penuh semangat, wanita paruh baya ini mengungkapkan bahwa negara tetangga tidak mungkin mengklaim karena teknik dan jenis batiknya berbeda.

“Saya berani mengatakan, 90 persen batik Malaysia merupakan batik Indonesia. Dan mereka yang mengklaim, sama sekali tidak bisa membatik. Saya melihat langsung bahwa teknik yang mereka terapkan jauh berbeda. Sehingga saya pikir, aman bagi batik Indonesia meski mereka mengklaim hal yang tidak benar,” pungkasnya.

Dalam pameran ini juga diperagakan cara membatik lengkap dengan peralatan dan bahan membatik. Tidak ketinggalan, ragam perhiasan mewah karya Daphne Zepos yang terinspirasi kekayaan batik Indonesia juga dipajang berdampingan dengan karya batik se-nusantara.(fio/lim)
(Fionna Mediony, Malang Post 16 April 2008)

Keywords: , ,

No Comment »

  • nita said:

    tapi tetap saja motif/corak batik dapat diklaim/dipatenkan negara lain, seperti motif batik parang yogya kabarnya sudah dipatenkan malaysia sejak bbrp tahun lalu

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.